etos belajar

Punya masalah dengan semangat belajar? Jangan gundah gulana, Anda tidak sendirian. Banyak orang lain yang punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada solusinya!

Cara terbaik untuk mengatasinya dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi belajar. Itulah akar yang membentuk etos belajar.

 

Etos pertama: Belajar  Adalah Rahmat.

Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita berfikir dan belajar adalah anugerah. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun. Dengan belajar kita bisa tahu apa saja, mendapat pengalaman baru, merubah pola pikir menjadi lebih matang, menjadikan seseorang menyikapi masalah dengan positif dan memperkokoh akidah dan keimanan kepada Sang Pencipta.

 

Etos kedua: Belajar Adalah Amanah.

Apa pun pekerjaan kita adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. Sedangkan penuntut ilmu memikul amanah orang tua, bangsa dan agama.

 

Etos ketiga: Belajar Adalah Panggilan.

Kodrat kita sebagai manusia yang memiliki rasa, keinginan akan ilmu membuat kita terpanggil untuk memperbaiki, memperkaya dan membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang akan didapat dari belajar dan pengalaman. Sebagai pelajar, kita diharuskan untuk mendapat ilmu pengetahuan dengan melalui sebuah keterpanggilan akan besarnya rahmat yang kita dapat dari belajar serta amanat yang kita pikul.

 

Etos kelima: Belajar Itu Ibadah.

Belajar adalah ibadah kepada Allah SWT. Meski yang kita pelajari adalah pengetahuan umum atau hanya cara menyetir mobil umpamanya. Yang lebih penting, semua yang kita lakukan diniati ibadah. Sebab setiap perbuatan kembali kepada niat.

 

Etos keenam: Belajar Adalah Seni.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Memahami Wujud

Bismillahirrahmanirrahim

Memahami Wujud

(Ranah Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi) 

Tidak semua keinginan kita (manusia) terwujud. Sebab kita bukan Allah. Keinginan kita yang muncul dari jauhar kita terbatasi oleh akisedent-aksident yang ada. Berbeda dengan keinginan Allah yang Dia memang bukan jauhar yang selalu terkait dengan aksident-aksident sehingga keinginan-Nya tak terbatasi oleh apapun. Sebab itu, jika Allah menginginkan maka ada dan jika tidak maka tidak ada.

Jika keinginan kita terwujud — itupun atas keinginan Allah. Jika Allah tidak menginginkannya maka tidak terwujud. Sebab keinginan Allah itu sebagaimana telah dikatakan— itu tidak terbatas oleh apapun. 

Yang pasti sebagaimana yang diajarkan oleh Allah adalah kita mesti berjuang sesuai dengan apa yang dicintai oleh Allah sebagaimana yang diterangkan oleh wahyu-Nya, kekasih-kekasih-Nya dan para pejuang-Nya.   

Berlandaskan itu, maka insya Allah kita selalu sadar akan hakikat kita sebagai hamba-Nya (haqiqatu al-‘abd) dan Allah sebagai ilah (haqiqatu al-ilah).                 Al-Hamdullilah. 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TINJAUAN FILSAFAT IDEOLOGI BANGSA INDONESIA

Memberikan rumusan yang pasti tentang apa yang termuat dalam filsafat adalah suatu pekerjaan yang berani. Saya ingin mulai dari sini. Memang, para peminat filsafat, kita sulit mendefinisikan kata yang satu ini. Bahkan para filsuf ahli filsafat pun mengakuinya. Apa yang membuatnya demikian adalah oleh karena terdapatnya beragam-ragam paham, metode dan tujuan, yang dianut, ditempuh dan dituju oleh masing-masing filsuf. Namun, sebuah pengertian awal mesti diberikan. maksudnya sebagai kompas agar kita tidak tersesat arah di dalam perjalanan memahami filsafat. Mengingat maksud ini maka pengertian tersebut haruslah bersifat dapat dipahami oleh banyak orang, sehingga dapat dijadikan tempat berpijak bersama. Aristoteles mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. filsafat menyelidiki sebab dan asas.
Tinjauan filsafat terhadap sebuah konsep ideologi, berarti kita harus juga mengerti apa yang dimaksud dengan ideologi. Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan untuk mendefinisikan “sains tentang ide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu. secara umum ideologi dalam kehidupan sehari hari dan beberapa arah filosofis ideologi politis, atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan utama dibalik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak. tidak hanya sekadar pembentukan ide yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit. Jadi aspek yang paling dasar dalam pembangunan bangsa adalah menempa rasa identitas bangsa, banyak negara-negara yang kekurangan simbol-simbol konvensioal dan tradisi ke-nasionalannya. Dan satu cara mengikis ke-sukuan dan loyalitas sempit adalah dengan cara mengembangkan “agama politis” seperti Soekarno dengan Marhaenisme dan Pancasila.
Tantangan terhadap ideologi ditengah perkembangan kontemporer dari awal berdirinya bangsa Indonesia hingga saat ini tidak bisa dijawab dengan begitu saja, namun membutuhkan pemikiran yang matang agar fokus perhatiannya menjadi lebih jelas terhadap persoalan-persoalan yang ada dewasa ini, ideologi perlu keluar dari dirinya sendiri untuk mengenali problem yang ada, membicarakan serta menganalisa ideologi seorang tokoh perlu sikap yang ekstra hati-hati. Sekalipun ideologi merupakan persoalan yang berhubungan dengan sosial tetapi pemahamanya sangat individual dari seorang tokoh.
Banyak sudah kritik terhadap ideologi dikarenakan ideologi seringkali dipahami secara sempit dan eksklusif oleh para pengikutanya, disertai dengan perasaan dan pertarungan yang berlebihan terhadap ideologi yang lain. Dalam hal ini ideologi menjadi inovatif dan terlalu dimutlakkan pemahamannya dan kesakralan ajarannya. Lebih bersifat eksklusif-reaktif daripada pro-aktif terjebak dalam institusionalisme sehingga menjadi kurang dinamis. Kurang dinamisnya ideologi disebabkan oleh menguatnya identifikasi diri setiap kelompok sosial berdasarkan ideologi yang mereka anut atau dalam istilah disebut klaim kebenaran ideologi yang di anutnya (truth claim)
Dalam lahirnya sebuah ideologi tidak terlepas dari konteks sebuah peranan sosial yang akan di perjuangkannya, dalam hal ini ideologi sosial mengklaim mewakili suatu kelompok tertentu dalam bentuk sebuah pengaruh yang lebih luas, pada konteks Indonesia ideologi semula menjadi obligatio in supra solidum (pemersatu bangsa) berubah sebagai obligatio in contravertion solidum (pemecah bangsa) ada penyebab kerawanan dalam persaingan ideologi menjadi sebuah konflik, ideologi memang mampu menanam solidaritas sosial yang sangat kuat. Namun terkadang solidaritas ini bersifat eksklusif dan terbatas pada para pengikutnya sehingga sering di tunggangkan dalam konflik yang sebenarnya bersifat sosial.
Dalam hal ini ideologi tidak terlepas dari sebuah peranan sosial dan muatan sosial demi tercapainya tujuan, ideologi lebih cenderung dijadikan sebagai doktrin sebuah ajaran yang melandasi perjuangan demi tercapainya tujuan ideologi tersebut. Terbentuknya suatu bangsa dalam tatanan masyarakat yang luas tidak lepas dari peranan ideologi yang mendasarinya, Indonesia dalam perjuangannya juga tidak terlepas dari sebuah tujuan demi terciptanya tatanan masyarakat yang lebih teratur dan bermartabat sebagai suatu bangsa. Dalam hal ini ideologi yang dibawa mendasari perjuangannya dari awal tidaklah lepas dari seorang tokoh Indonesia adalah Ir. Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia, Proklamator Kemerdekaan dan pimpinan besar revolusi dengan ideologi Marhaenisme yang selanjutnya disempurnakan dalam pancasila
Sesungguhnya bagi kalangan Marhaenis Sejati, yang melakukan studi mendalam terhadap ideologi, sudah sejak lama mereka tidak berkutat lagi dengan masalah fragmentasi ideologis. Terutama begitu formulasi perumusan Marhenisme[1] sejak 1 Juni 1945 telah disempurnakan menjadi Pancasila yang telah dirumuskan bersama yang antara lain dilakukan dengan mengadopsi Sosialisme, Islam, kedalam suatu kesatuan pandang yang integral tentang apa itu yang dimaksud dengan Sosialisme Indonesia.
Islam dilihat oleh Soekarno sebagai agama yang progresif dan rasional, bukan seperti yang dipraktekkan di Indonesia. Kekolotan praktek Islam di Indonesia menurut Soekarno harus dirombak dan disesuaikan dengan kemajuan zaman, karena Islam modern yang dipahami Soekarno dianggap tidak bertentangan dengan ide-ide nasionalisme dan marxisme sebagaimana penafsiran Soekarno; Islam yang sejati tidaklah mengandung asas anti-nasionalis, Islam yang sejati tidak bertabiat anti sosialis selama kaum Islamis memusuhi faham-faham nasionalisme yang luas budi dan Marxisme yang besar selama itu kaum Islamis tidak berdiri diatas sirathal mustaqim selama itu tidaklah ia mengangkat Islam dari kenistaan dan kerusakan sama sekali tidak mengatakan yang Islam itu setuju pada materialisme dan perbedaan sama sekali tidak melupakan bahwa Islam itu melebihi bangsa supernasional bahwa Islam sejati itu mengandung tabiat-tabiat sosialis dan menetapkan kewajiban-kewajibannya menjadi kewajiban nasionalis.[2]
Marhaaenisme itu bukanlah lain melainkan Sosio-nasionalisme dan Sosio-demokrasi; Sosio-nasionalisme terdiri atas, Internasionalisme dan Nasionalisme, sedangkan Sosio-Demokrasi mencakup, demokrasi dan keadilan sosial, Oleh karena itu jelaslah baik “Pancasila” Soekarno maupun Lima Asas Yamin bukanlah lain melainkan pernyataan kembali (Restatement) empat segi Marhaenisme yang dirumuskan pada tahun 1933 ditambah Ke-Tuhanan. Dari Islam ketuhanan yang Maha Esa muncul dan Islam secara historis dan kultural Islam di Indonesia citra dan cerita yang sangat positif. Islam datang secara damai dan telah memberikan andil yang sangat besar dalam meningkatkan peradaban nusantara bahkan secara politis, Islam menjadi kekuatan dominan yang mampu menyangga dan mempersatukan penduduk nusantara yang bertebaran ini ke dalam sebuah identitas baru yang bernama Indonesia sekalipun pada akhirnya secara legal formal ikatan ke-Indonesiaan ini diatur dan diperkuat oleh administrasi dan ideologi negara.[3]
Menurut penafsiran Sutan Syahrir, Marhaenisme sangat jelas menekankan pengumpulan massa dalam jumlah besar. Untuk ini, dibutuhkan dua prinsip gerakan yang kelak dapat dijadikan pedoman dalam sepak terjang kaum Marhaenis. Ditemukanlah dua prinsip Marhaenisme, yakni sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Untuk menjelaskan kedua prinsip itu, Soekarno telah mengadopsi pemikiran sosialis dan komunis. Ajaran yang melawan sistem demokrasi parlementer digunakan oleh Soekarno untuk mengembangkan sikap para Marhaenis yang wajib taat pada pemimpin revolusi, tanpa boleh banyak tanya soal-soal yang pelik dalam bidang politik. Soekarno makin dalam mendapatkan keyakinan bahwa demokrasi parlementer merupakan sistem masyarakat borjuis yang tidak mengenal kasihan pada kaum yang miskin. Soekarno benar-benar menyatakan bahwa seseorang tidak perlu untuk menjadi komunis jika hanya ingin mencermati demokrasi sebagai benar-benar produk masyarakat borjuis. Selanjutnya Soekarno menyatakan bahwa setiap Marhaenis harus menjadi revolusioner sosial, bukan revolusioner borjuis, dan sosok itu dijuluki Soekarno sebagai sosio-nasionalisme atau nasionalisme marhaenis. Soekarno menandaskan bahwa tidak menginginkan adanya pertarungan kelas. Disini jelas Soekarno memperlihatkan awal watak anti-demokrasinya dan hendak menafikan keberadaan pertarungan kelas sebagai tak terpisahkan untuk memperjuangkan kelas lemah yang tertindas. Kediktatoran Soekarno juga mulai terlihat sejak konsep Marhaenisme berusaha diwujudkannya menjadi ideologi partai.[4]
Marhaenisme ini lebih menyepakati tafsiran Tan Malaka tentang Marhaenisme. Pokok- Pokok Ajaran Marhaenisme mengangkat masalah penghisapan dan penindasan rakyat kecil yang terdiri dari kaum tani miskin, petani kecil, buruh miskin, pedagang kecil kaum melarat Indonesia yang dilakukan oleh para kapitalis, tuan-tanah, rentenir dan golongan-golongan penghisap lainnya. Ungkapan yang sering dipakai oleh Bung Karno, dan yang paling terkenal, adalah exploitation de l’homme par l’homme (penghisapan manusia oleh manusia) Marhaenisme Pemikiran Bung karno dalam hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa baginya, kepentingan rakyat adalah tujuan akhir dari segala-galanya.
Arah gerakan sosial pada umumnya akan mengikuti dua pola yang berbeda. Pertama; gerakan sosial antagonistik yang ditransformasikan ke dalam kekuatan politik dan perubahan yang terinstitusionalisasi. Kedua; gerakan sosial yang mengalami transformasi menjadi political rupture ketika mekanisme institusionalisasi terhenti.[5] Dalam benak Soekarno memakai perkataan Marhaen, dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub di dalam perkataan Marhaen, dan oleh karena perkataan proletar itu bisa diartikan bahwa kaum tani dan kaum lain-lain kaum melarat tidak termaktub di dalamnya. Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen. Marhaenisme adalah pula cara perjungan untuk mencapai susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjungan yang revolusioner. Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan azas yang ditujukan terhadap hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan Imperialisme. Marhaenisme adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.[6]
Ideologi yang sama mendasari pancasila, lima prinsip yang dikemukakan Soekarno sebagai dasar Indonesia merdeka. Prinsip percaya kepada Tuhan yang Maha Esa dengan tidak memandang agama seseorang, sesuai dengan ajaran Teosofi tentang keesaan Tuhan dan prinsip-prinsip nasionalisme, internasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial. Harus diusahakan melalui struktur yang berpusat pada titik ketuhanan yang satu yang menjadi titik tolak pernyataan Soekarno. Dalam masyarakat semacam itu sama rata sama rasa selalu dapat diwujudkan dan pada waktu yang sama dianggap dapat terlaksana melalui prinsip yang berfungsi dalam apa yang disebut keluarga. Perkembangan sepenuhnya dalam prinsip demikian dalam arena politik menimbulkan sistem Soekarno suatu struktur ideologi yang berpusat pada Soekarno, semua unsur heterogen bertemu dan bersatu padanya, semboyan Bhineka Tunggal Ika, kesatuan dalam keragaman, akan terwujud dalam diri Soekarno. Ini berarti bahwa semua unsur akan diatur dan diberi cara eksistensinya oleh pusat dan hasilnya berbagai hierarki muncul, masing-masing dengan Soekarno sebagai Puncaknya.[7]
Dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tinjauan filsafat terhadap kosep sosial ideology marhaenisme soekarno, ideology marhaenisme sendiri banyak mengandung unsur-unsur pemikiran yang dikemas menjadi satu yang didalamnya terdapat islam, sosialis, komunis, dsb. Bentuk filsafat yang hadir dalam konsep sosial ideology ini akan mewakili tokoh yang akan kita bahas. Bagi penulis, mengenalisa filsafat dalam sebuah ideology merupakan bentuk tulisan yang menarik untuk dikaji karena memiliki makna yang dalam. Dari makna yang mendalam ini dapat ditemukan nilai ideologis dari konsep social yang merupakan salah satu cabang filsafat. Tinjauan filsafat terhadap konsep sosial ideology marhaenisme menjadi kajian yang penting untuk diteliti dalam ilmu-ilmu keushuludinan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membangun Motivasi Belajar Siswa

Membangun Motivasi Belajar Siswa

Salah satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran pembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka sesulit apapun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya mereka akan menjalaninya dengan “enjoy” dan “pede”.Tulisan ini mencoba mengangkat apa itu motivasi, belajar, dan pentingnya motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran.
A. Pengertian Motivasi

Banyak pakar yang merumuskan definisi ‘motivasi’ sesuai dengan kajian yang diperdalamnya. Rumusannya beraneka ragam, sesuai dengan sudut pandang dan kajian perspektif bidang telaahnya. Namun demikian, ragam definisi tersebut memiliki ciri dan kesamaan. Di bawah ini dideskripsikan beberapa kutipan pengertian ‘motivasi’.

Michel J. Jucius (Onong Uchjana Effendy, 1993: 69-70) menyebutkan ‘motivasi’ sebagai “kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki”.

Menurut Dadi Permadi (2000: 72) ‘motivasi’ adalah “dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baik yang positif maupun yang negatif”.

Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (2004: 64-65), apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko, selalu ada motivasinya. Ini berarti, apa pun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu. Jadi, setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada motivasinya.

Lantas, Nasution (2002: 58), membedakan antara ‘motif’ dan ‘motivasi’. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi, sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya.

Berdasarkan deskripsi di atas, ‘motivasi’ dapat dirumuskan sebagai sesuatu kekuatan atau energi yang menggerakkan tingkah laku seseorang untuk beraktivitas.

Motivasi dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1) motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal yang timbul dari dalam diri pribadi seseorang itu sendiri, seperti sistem nilai yang dianut, harapan, minat, cita-cita, dan aspek lain yang secara internal melekat pada seseorang; dan (2) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi eksternal yang muncul dari luar diri pribadi seseorang, seperti kondisi lingkungan kelas-sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward) bahkan karena merasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi)

B. Pengertian Belajar

Banyak definisi yang diberikan tentang ‘belajar’. Misalnya Gage (1984), mengartikan ‘belajar’ sebagai suatu proses di mana organisma berubah perilakunya.

Cronbach mendefinisikan belajar: “learning is shown by a change in behavior as a result of experience” (belajar ditunjukkan oleh suatu perubahan dalam perilaku individu sebagai hasil pengalamannya). Harold Spears mengatakan bahwa: learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction” (belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri sesuatu, mendengarkan, mengikuti arahan). Adapun Geoch, menegaskan bahwa: “learning is a change in performance as result of practice.” (belajar adalah suatu perubahan di dalam unjuk kerja sebagai hasil praktik).

Kemudian, menurut Ratna Willis Dahar (1988: 25-26), “belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman”. Paling sedikit ada lima macam perilaku perubahan pengalaman dan dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar:

Pertama, pada tingkat emosional yang paling primitif, terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Sebagai suatu fungsi pengalaman, stimulus terkondisi itu pada suatu waktu memeroleh kemampuan untuk mengeluarkan respons terkondisi. Bentuk semacam ini disebut responden, dan menolong kita untuk memahami bagaimana para siswa menyenangi atau tidak menyenangi sekolah atau bidang-bidang studi.

Kedua, belajar kontiguitas, yaitu bagaimana dua peristiwa dipasangkan satu dengan yang lain pada suatu waktu, dan hal ini banyak kali kita alami. Kita melihat bagaimana asosiasi ini dapat menyebabkan belajar dari ‘drill’ dan belajar stereotipe-stereotipe.

Ketiga, kita belajar bahwa konsekuensi-konsekuensi perilaku memengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi atau tidak, dan berapa besar pengulangan itu. Belajar semacam ini disebut belajar operant.

Keempat, pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadian-kejadian. Kita belajar dari model-model dan masing-masing kita mungkin menjadi suatu model bagi orang lain dalam belajar observasional.

Kelima, belajar kognitif terjadi dalam kepala kita, bila kita melihat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitar kita, dan dengan insight, belajar menyelami pengertian.

Akhirnya, Depdiknas (2003) mendefinisikan ‘belajar’ sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini terbukti, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya.

Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya. Seorang siswa bertanya, “Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?” Guru yang baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, “Saya sendiri tidak tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?”.

Jadi, berdasarkan deskripsi di atas, ‘belajar’ dapat dirumuskan sebagai proses siswa membangun gagasan/pemahaman sendiri untuk berbuat, berpikir, berinteraksi sendiri secara lancar dan termotivasi tanpa hambatan guru; baik melalui pengalaman mental, pengalaman fisik, maupun pengalaman sosial.

C. Pentingnya Motivasi Belajar Siswa

Dalam kegiatan pembelajaran, ‘perhatian’ berperan amat penting sebagai langkah awal yang akan memacu aktivitas-aktivitas berikutnya. Dengan ‘perhatian’, seseorang berupaya memusatkan pikiran, perasaan emosional atau segi fisik dan unsur psikisnya kepada sesuatu yang menjadi tumpuan perhatiannya.

Gage dan Berliner (1984) mengungkapkan, tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Jadi, seseorang siswa yang menaruh minat terhadap materi pelajaran, biasanya perhatiannya akan lebih intensif dan kemudian timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi pelajaran tersebut.

Di sini, motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha seseorang (siswa) untuk menyediakan segala daya (kondisi-kondisi) untuk belajar sehingga ia mau atau ingin melakukan proses pembelajaran.

Dengan demikian, motivasi belajar dapat berasal dari diri pribadi siswa itu sendiri (motivasi intrinsik/motivasi internal) dan/atau berasal dari luar diri pribadi siswa (motivasi ekstrinsik/motivasi eksternal). Kedua jenis motivasi ini jalin-menjalin atau kait mengait menjadi satu membentuk satu sistem motivasi yang menggerakkan siswa untuk belajar.

Jelaslah sudah pentingnya motivasi belajar bagi siswa. Ibarat seseorang menjalani hidup dan kehidupannya, tanpa dilandasi motivasi maka hanya kehampaanlah yang diterimanya dari hari ke hari. Tapi dengan adanya motivasi yang tumbuh kuat dalam diri seseorang maka hal itu akan merupakan modal penggerak utama dalam melakoni dunia ini hingga nyawa seseorang berhenti berdetak. Begitu pula dengan siswa, selama ia menjadi pembelajar selama itu pula membutuhkan motivasi belajar guna keberhasilan proses pembelajarannya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membangun Motivasi Belajar Siswa

Membangun Motivasi Belajar Siswa

Diposkan oleh Muhammad Yandri Sabtu, 26 Juni 2010

 

Salah satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran pembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka sesulit apapun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya mereka akan menjalaninya dengan “enjoy” dan “pede”.

Tulisan ini mencoba mengangkat apa itu motivasi, belajar, dan pentingnya motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran.

A. Pengertian Motivasi

Banyak pakar yang merumuskan definisi ‘motivasi’ sesuai dengan kajian yang diperdalamnya. Rumusannya beraneka ragam, sesuai dengan sudut pandang dan kajian perspektif bidang telaahnya. Namun demikian, ragam definisi tersebut memiliki ciri dan kesamaan. Di bawah ini dideskripsikan beberapa kutipan pengertian ‘motivasi’.

Michel J. Jucius (Onong Uchjana Effendy, 1993: 69-70) menyebutkan ‘motivasi’ sebagai “kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki”.

Menurut Dadi Permadi (2000: 72) ‘motivasi’ adalah “dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baik yang positif maupun yang negatif”.

Sedangkan menurut Ngalim Purwanto (2004: 64-65), apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko, selalu ada motivasinya. Ini berarti, apa pun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu. Jadi, setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada motivasinya.

Lantas, Nasution (2002: 58), membedakan antara ‘motif’ dan ‘motivasi’. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi, sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya.

Berdasarkan deskripsi di atas, ‘motivasi’ dapat dirumuskan sebagai sesuatu kekuatan atau energi yang menggerakkan tingkah laku seseorang untuk beraktivitas.

Motivasi dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1) motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal yang timbul dari dalam diri pribadi seseorang itu sendiri, seperti sistem nilai yang dianut, harapan, minat, cita-cita, dan aspek lain yang secara internal melekat pada seseorang; dan (2) motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi eksternal yang muncul dari luar diri pribadi seseorang, seperti kondisi lingkungan kelas-sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah (reward) bahkan karena merasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi)

B. Pengertian Belajar

Banyak definisi yang diberikan tentang ‘belajar’. Misalnya Gage (1984), mengartikan ‘belajar’ sebagai suatu proses di mana organisma berubah perilakunya.

Cronbach mendefinisikan belajar: “learning is shown by a change in behavior as a result of experience” (belajar ditunjukkan oleh suatu perubahan dalam perilaku individu sebagai hasil pengalamannya). Harold Spears mengatakan bahwa: learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction” (belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri sesuatu, mendengarkan, mengikuti arahan). Adapun Geoch, menegaskan bahwa: “learning is a change in performance as result of practice.” (belajar adalah suatu perubahan di dalam unjuk kerja sebagai hasil praktik).

Kemudian, menurut Ratna Willis Dahar (1988: 25-26), “belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman”. Paling sedikit ada lima macam perilaku perubahan pengalaman dan dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar:

Pertama, pada tingkat emosional yang paling primitif, terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Sebagai suatu fungsi pengalaman, stimulus terkondisi itu pada suatu waktu memeroleh kemampuan untuk mengeluarkan respons terkondisi. Bentuk semacam ini disebut responden, dan menolong kita untuk memahami bagaimana para siswa menyenangi atau tidak menyenangi sekolah atau bidang-bidang studi.

Kedua, belajar kontiguitas, yaitu bagaimana dua peristiwa dipasangkan satu dengan yang lain pada suatu waktu, dan hal ini banyak kali kita alami. Kita melihat bagaimana asosiasi ini dapat menyebabkan belajar dari ‘drill’ dan belajar stereotipe-stereotipe.

Ketiga, kita belajar bahwa konsekuensi-konsekuensi perilaku memengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi atau tidak, dan berapa besar pengulangan itu. Belajar semacam ini disebut belajar operant.

Keempat, pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadian-kejadian. Kita belajar dari model-model dan masing-masing kita mungkin menjadi suatu model bagi orang lain dalam belajar observasional.

Kelima, belajar kognitif terjadi dalam kepala kita, bila kita melihat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitar kita, dan dengan insight, belajar menyelami pengertian.

Akhirnya, Depdiknas (2003) mendefinisikan ‘belajar’ sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini terbukti, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya.

Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya. Seorang siswa bertanya, “Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?” Guru yang baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, “Saya sendiri tidak tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?”.

Jadi, berdasarkan deskripsi di atas, ‘belajar’ dapat dirumuskan sebagai proses siswa membangun gagasan/pemahaman sendiri untuk berbuat, berpikir, berinteraksi sendiri secara lancar dan termotivasi tanpa hambatan guru; baik melalui pengalaman mental, pengalaman fisik, maupun pengalaman sosial.

C. Pentingnya Motivasi Belajar Siswa

Dalam kegiatan pembelajaran, ‘perhatian’ berperan amat penting sebagai langkah awal yang akan memacu aktivitas-aktivitas berikutnya. Dengan ‘perhatian’, seseorang berupaya memusatkan pikiran, perasaan emosional atau segi fisik dan unsur psikisnya kepada sesuatu yang menjadi tumpuan perhatiannya.

Gage dan Berliner (1984) mengungkapkan, tanpa adanya perhatian tidak mungkin terjadi belajar. Jadi, seseorang siswa yang menaruh minat terhadap materi pelajaran, biasanya perhatiannya akan lebih intensif dan kemudian timbul motivasi dalam dirinya untuk mempelajari materi pelajaran tersebut.

Di sini, motivasi belajar dapat didefinisikan sebagai usaha-usaha seseorang (siswa) untuk menyediakan segala daya (kondisi-kondisi) untuk belajar sehingga ia mau atau ingin melakukan proses pembelajaran.

Dengan demikian, motivasi belajar dapat berasal dari diri pribadi siswa itu sendiri (motivasi intrinsik/motivasi internal) dan/atau berasal dari luar diri pribadi siswa (motivasi ekstrinsik/motivasi eksternal). Kedua jenis motivasi ini jalin-menjalin atau kait mengait menjadi satu membentuk satu sistem motivasi yang menggerakkan siswa untuk belajar.

Jelaslah sudah pentingnya motivasi belajar bagi siswa. Ibarat seseorang menjalani hidup dan kehidupannya, tanpa dilandasi motivasi maka hanya kehampaanlah yang diterimanya dari hari ke hari. Tapi dengan adanya motivasi yang tumbuh kuat dalam diri seseorang maka hal itu akan merupakan modal penggerak utama dalam melakoni dunia ini hingga nyawa seseorang berhenti berdetak. Begitu pula dengan siswa, selama ia menjadi pembelajar selama itu pula membutuhkan motivasi belajar guna keberhasilan proses pembelajarannya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

574632_433035026712136_100000169282376_1869347_1511520809_n

574632_433035026712136_100000169282376_1869347_1511520809_n

Image | Posted on by | Leave a comment

Kata Motivasi Mario Teguh

"MANAJEMEN INTEGRAL : SEBUAH DOKUMENTASI BLOG"

Kata motivasi dari motivator Mario teguh dengan acara “Golden Way” yang disarikan dari beberapa share yang memotivasi kita untuk senantiasa hidup survival dalam berbagai macam masalah, Saya mulai dengan beberapa tips motivasi dari Mario Teguh, semoga bermanfaat :

1. Kita menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila anda berpikir bisa, segeralah lakukan Bukan pertumbuhan yang lambat yang harus anda takuti. Akan tetapi anda harus lebih takut untuk tidak tumbuh sama sekali. Maka tumbuhkanlah diri anda dengan kecepatan apapun itu.

2. Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan bila anda sedang takut, jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan anda . Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil

3. Anda hanya…

View original post 286 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment